Thursday, June 28, 2012

Menepati Janji

Menepati Janji. Salah satu bagian dari akhlak yang terpuji yang terpanacr dari jiwa orang yang baik serta mulia adalah dengan menepati janji. Orang yang menepati janji akan dekat dengan Allah dan manusia. Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah menunaikannya.

Betapa banyak pula orang-orang yang dengan mudahnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan dalam hal ini termasuk larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir. Janji berarti sebuah hutang yang kita ucapkan kepada seseorang atau diri sendiri yang pada dasarnya janji / hutang tersebut haruslah di tepatin atau di bayar. Itulah pengertian janji diantaranya.

menepati janji, Muhasabah

Manusia dalam hidup ini pasti ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Maka setiap kali seorang itu mulia dalam hubungannya dengan manusia dan terpercaya dalam pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya dan akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara seseorang tidak akan bisa meraih predikat orang yang baik dan mulia pergaulannya, kecuali jika ia menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk menepati pada janji, sebagaimana tertuang dalam beberapa firman-Nya :
"Dan tepatilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya "( QS. Al-Israa' (17) : 34 )
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji.."(QS. An-Nahl(16):19)
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu."(QS. Al-Maa'idah (5) : 1)
Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : "Tanda orang munafik ada tiga : Bila bicara ia berdusta, Bila berjanji ia ingkar, dan bila dipercaya ia berkhianat."(HR. Bukhari (33), Muslim (59)).

Seorang mukmin tampil beda dengan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya. Bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Labels: ,

Tuesday, June 19, 2012

Hikmah Sakit

Hikmah Sakit. Sakit merupakan sesuatu hal yang seringkali menimpa setiap makhluk hidup di muka bumi ini, tak terkecuali kita sebagai manusia. Sehat, sakit, gembira, sedih adalah saat-saat yang tiap kali berganti. Seringkali kita baru merasakan betapa nikmatnya sehat adalah di kala kita mengalami apa yang dinamakan dengan sakit. Hidup kita ini tidak terlepas dari cobaan serta ujian, bahkan cobaan dan ujian dalam hal ini sakit merupakan sunatullah dalam kehidupan. Karena sebenarnya hikmah sakit atau hikmah penyakit itu banyak saudaraku. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya.

hikmah sakit, Muhasabah

Hikmah sakit pada postingan Muhasabah ini diinsiprasi dari sahabat blogger yaitu portal kesehatan dalam salah satu postingannya yang berkenaan dengan pengertian sakit. Sebagai seorang muslim tentunya kita mengetahui bahwasannya dalam setiap kejadian ada rahasia dan juga hikmah yang telah Allah berikan kepada kita sebagai makhluknya yang lemah termasuk dalam hikmah sakit ini. Hanya seja karena keterbatasan pengetahuan serta ilmu kita sebagai manusia, seringkali hikmah dibalik sakit tersebut belum kita mengerti.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam salah satu sabda beliau pernah mengatakan : "Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim)
Hikmah sakit yang dapat kita petik diantaranya yaitu :
  1. Sakit akan menghapuskan dosa. Perlu kita mengetahui saudaraku bahwasannya penyakit atau sakit yang kita dapatkan adalah bisa merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Allah Ta'ala berfirman :"Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. asy-Syuura: 30).
  2. Sakit akan mengingatkan seorang hamba atas kelalaiannya. Sesungguhnya di balik sakit akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri.
  3. Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya."(HR. Muslim)
  4. Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi." (HR. Muslim). Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka." (HR. Al Bazzar, shohih)
Semoga dengan kita mengetahui beberapa hikmah sakit di atas akan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala bahwasannya kita adalah makhluk-Nya yang lemah dan seringkali lalai dalam mensyukuri nikmat sehat yang telah Allah anugerahkan kepada kita semua.

Labels: ,

Sunday, June 10, 2012

Tanggung Jawab Orang Tua

Tanggung Jawab Orang Tua - Visi dan tujuan hidup kita sebagai seorang muslim adalah kembali kepada Allah dan masuk ke dalam surga-Nya. Oleh karena itu, salah satu tanggung jawab orang tua adalah dengan mendidik seluruh anggota keluarganya agar menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Sehingga dicatat sebagai golongan Ahli surga dan diselamatkan dari siksa neraka.

kewajiban orang tua, Muhasabah

Ada beberapa tanggung jawab orang tua dan diantaranya yaitu :
  1. Kewajiban Memimpin Keluarga. Berkaitan dengan kewajiban memimpin ini maka orang tua mempunyai kewajiban untuk membimbing anggota keluarga menempuh agama Allah dan juga menyelamatkan dari api neraka. Allah Ta'ala berfirman :
    "Hai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu". (QS. At-Tahrim: 6)
    . Dalam memimpin keluarga, maka figur orang tua dan contoh serta suri tauladan yang baiklah akan sangat membantu dalam menjalankan kewajiban ini. Tentunya sikap dan perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
  2. Anak-anak yang lahir, tumbuh dan di besarkan dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi kelemahlembutan, dan dalam balutan pendidikan Islam yang baik maka pada saat dewasa ia pun akan menjadi pribadi yang penyabar, penuh cinta kasih dan mudah memaafkan. Karena, anak-anak belajar (terutama) dari apa yang ia lihat. Terutama dalam keluarga adalah figur ayah dan ibunya.
  3. Kewajiban Memberikan Nafkah yang Halal. Kewajiban dalam memberikan nafkah halal ini selamanya akan tetap terpikul di pundak para ayah. Adapun bagi para ibu, tidak ada kewajiban baginya untuk menafkahi keluarga. Jika kemudian pada perkembangannya para ibu bekerja untuk membantu tugas para ayah memenuhi kebutuhan keluarga dengan tetap menjaga kehormatan diri ketika keluar rumah, ia akan diberi pahala shadaqah atas apa yang diberikannya. Dalam hal ini Allah ta'ala telah berfirman :
    "Dan menjadi kewajiban para ayah, untuk memberi makanan dan pakaian kepada istri dan anak-anaknya.." (QS. Al-Baqarah:233)
    . Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
    "Satu dinar yang engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau shadaqahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. Pahalanya lebih besar yang engkau nafkahkan untuk keluarga". (HR. Muslim)
    . Dalam hal kewajiban memberikan nafkah, tidak semua jenis nafkah yang diberikan orang tua akan diganjar dengan kebaikan. Hanya nafkah yang halal sajalah yang akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang besar dan juga ampunan-Nya. Sementara sebaliknya yaitu nafkah yang haram dalam mendapatkannya, tidak akan mendapat ganti dan menambah apa pun selain kecelakaan, kesengsaraan dan kehinaan, baik bagi yang memberi maupun yang menerima, dunia dan akhirat.
  4. Kewajiban Mendidik Anak. Dalam hal kewajiban mendidik ini tentunya orang tua harus memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya. Tentu saja pendidikan agama yang merupakan pondasi keselamatan dunia akherat dan juga pendidikan formal atau pun non formal lainnya yang sekarang banyak di sekitar kita. Pendidikan dunia dan juga pendidikan akherat dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka mendidik anak.

Labels: ,