Friday, November 25, 2011

Beriman Kepada Malaikat

Beriman Kepada Malaikat
Malaikat adalah makhluk yang hidup di alam ghaib dan senantiasa beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah sedikit pun. Diciptakan dari cahaya dan diberikan kekuatan untuk mentaati dan melaksanakan perintah dengan sempurna.

Iman kepada Malaikat merupakan salah satu landasan agama Islam.
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya….”
(QS. Al-Baqarah: 285)

Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab: “(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.”
(Muttafaq `alaih)
Barangsiapa yang ingkar dengan keberadaan malaikat, maka dia telah kafir, keluar dari Islam. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”
(QS. An-Nisa`: 136)

Batasan Minimal Iman kepada Malaikat

Syaikh Shalih bin `Abdul `Aziz Alu Syaikh hafidzahullah mengatakan: “Batas minimal (iman kepada malaikat) adalah keimanan bahwasanya Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa taat kepada-Nya. Mereka merupakan makhluk yang diatur sehingga tidak berhak diibadahi sama sekali. Diantara mereka ada malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi.”
(Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh)

Bertambah Iman Seiring dengan Bertambahnya Ilmu

Setelah itu, setiap kali bertambah ilmu seseorang tentang rincian hal tersebut (malaikat), wajib baginya mengimaninya. Dengan begitu, maka imannya akan bertambah.
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.”
(QS. At-Taubah: 124)

beriman kepada malaikat, muhasabah

Hakikat malaikat

Syaikh DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil mengatakan, “Dalil-dalil dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan ijma` (kesepakatan) kaum muslimin (tentang malaikat) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Malaikat merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.
  2. Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah menciptakan jin dan manusia juga untuk beribadah kepada-Nya semata.
  3. Mereka adalah makhluk yang hidup, berakal, dan dapat berbicara.
  4. Malaikat hidup di alam yang berbeda dengan alam jin dan manusia. Mereka hidup di alam yang mulia lagi suci, yang Allah memilih tempat tersebut di dunia karena kedekatannya, dan untuk melaksanakan perintah-Nya, baik perintah yang yang bersifat kauniyyah, maupun syar`iyyah.

Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: ‘Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.”
(QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29)

(Lihat Mu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin hal. 15)

Asal Penciptaan Malaikat

Allah Ta`ala menciptakan malaikat dari cahaya. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ummul Mu`minin `Aisyah radhiyallah `anha, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya.”
(HR. Muslim)

Jumlah Malaikat

Jumlah mereka sangat banyak. Hanya Allah saja yang tahu berapa banyak jumlah mereka.
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” (QS. Al-Muddatstsir: 31) Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallammelakukan Isra` Mi`raj, berkata Jibril `alaihis salam kepada beliau: “Ini adalah Baitul Ma`mur. Setiap hari shalat di dalamnya 70 ribu malaikat. Jika mereka telah keluar, maka mereka tidak kembali lagi…. ”
(Muttafaqun `alaihi)

Sifat Fisik Malaikat
Berikut ini kami sampaikan sebagian sifat fisik malaikat:

Kuatnya fisik mereka
Allah Ta`ala berfirman tentang keadaan neraka (yang artinya), “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. Tahrim: 6)
Panas api neraka, yang membuat besi dan batu meleleh, tidak membahayakan mereka.Demikian juga dengan Malakul jibal (Malaikat gunung), dimana dia menawarkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk menabrakkan dua gunung kepada sebuah kaum yang mendurhakai beliau. Kemudian beliau menolak tawaran tersebut. (Hadits yang menceritakan kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Mempunyai sayap
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Fathiir: 1)

Tidak membutuhkan makan dan minum
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’”
(QS. Huud: 69 – 70)
As Suyuthi rahimahullah berkata: “Ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwasannya malaikat tidak makan, tidak minum, dan juga tidak menikah.”

Ke-ma`shum-an Malaikat

Allah Ta`ala telah manjadikan malaikat sebagai makhluk yang ma`shum, dimana mereka tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Allah Ta`ala berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah….”
(lihat QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29 di atas)

Buah Iman kepada Malaikat

Diantara buah dari beriman kepada malaikat adalah:
  • Mengetahui keagungan Allah Ta`ala yang telah menciptakan makhluk-makhluk yang mulia, yaitu malaikat.
  • Kecintaan kepada malaikat karena ibadah-ibadah yang mereka lakukan.
(lihat Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh `Utsaimin)

Demikianlah sedikit bahasan tentang malaikat. Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih rinci tentang Malaikat, silahkan merujuk ke kitabMu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin karya DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil. Wallahu Ta`ala a`lam.

Penulis : Abu Ka’ab Prasetyo
Sumber : Muslim.Or.Id

Labels:

Monday, November 21, 2011

Jenis Rejeki

Jenis Rejeki
Masyarakat Indonesia masih mengartikan bahwa kata rejeki selalu harus berupa uang yang mereka terima langsung di tangan mereka. Padahal pengertian rejeki sangat luas dan lebih dari itu.

Rejeki dapat berupa apapun baik uang, anak, jodoh, makanan, minuman, binatang ternak, dan lain sebagainya. Pengertian yang harus selalu di tanam adalah segala sesuatu yang kita terima itulah yang dinamakan rejeki baik langsung maupun tidak langsung. Saat rejeki itu membawa kita menjadi orang yang lebih baik itulah yang disebut rejeki baik.

“Alhamdulillah, baru saja dapat rezeki”. Ketika mendengar kalimat ini, kebanyakan orang berpikir bahwa obyek yang sedang dibicarakan dalam kalimat tersebut adalah rezeki duniawi, lebih khusus lagi adalah rezeki berupa harta. Kalau kita mau mencermati, sebenarnya rezeki berupa harta adalah sebagian saja dari rezeki yang Allah berikan kepada makhluk-Nya.

Namun, sifat kebanyakan manusia yang jauh dari rasa syukur dan lebih berorientasi dengan gemerlap dunia yang fana, terkadang hanya membatasi rezeki dengan harta duniawi semata. Padahal sesungguhnya Allah Ta’ala telah banyak memberi rezeki kepada manusia dengan bentuk yang beragam.

jenis rejeki, muhasabah

Rezeki Umum dan Rezeki Khusus

Rezeki yang Allah berikan kepada makhluk ada dua bentuk :

1. Rezeki yang sifatnya umum (الرزق العم )

Yakni segala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan, berupa harta, rumah, kendaraan, kesehatan, dan selainnya, baik berasal dari yang halal maupun haram. Rezeki jenis ini Allah berikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang kafir.

Banyaknya pemberian jenis rezeki yang pertama ini tidak menunjukkan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Begitu pula sedikitnya rezeki dunia yang Allah berikan kepada seseorang tidak menunjukkan kehinaan orang tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” .
(QS. Al Fajr :15-16)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala berfirman mengingkari keyakinan (sebagian) manusia. (Maksud ayat ini) bahwasanya jika Allah meluaskan rezeki mereka tujuannya adalah untuk menguji mereka dengan rezeki tersebut. Sebagian orang meyakini bahwa rezeki dari Allah merupakan bentuk pemuliaan terhadap mereka.

Namun yang benar bukanlah demikian, bahkan rezeki tersebut merupakan ujian dan cobaan untuk mereka sebagaimana firman Allah :

. نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَّا يَشْعُرُونَ. أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar”
(QS. Al Mu’minun:55-56).

Demikian pula sebaliknya. Jika Allah memeberinya cobaan dan mengujinya dengan menyempitkan rezekinya, sebagian orang menyangka Allah sedang menghinakannya. Maka Allah katakan : { كَلا } (sekali-kali tidak). Yang dimaksud bukanlah seperti persangkaan mereka. Allah memberikan harta kepada orang yang Allah cintai dan kepada orang yang tidak Allah cintai. Allah juga menyempitkan harta terhadap orang yang Allah cintai maupunn orang yang tidak dicintai-Nya. Sesungguhnya semuanya bersumber pada ketaatan kepada Allah pada dua kondisi tersebut (baik ketika mendapat rezeki yang luas maupun rezeki yang sempit). Jika seseorang kaya (mendapat banyak rezeki harta) dia bersyukur kepada Allah dengan pemberian tersebut, dan jika miskin (sempit rezeki) dia bersabar.”
(Tafsiru al Quran al ‘Adzim, Imam Ibnu Katsir rahimahullah)

Banyak sedikitnya rezeki duniawi adalah ujian semata, bukan standar kecintaan Allah terhadap hamba. Rezeki harta sebagai ujian Allah atas hamba-Nya, untuk mengetahui siapakah di antara hambanya yang bersyukur dan bersabar.

2. Rezeki yang sifatnya khusus (الرزق الخاص )

Yakni segala sesuatu yang membuat tegak agama seseorang. Rezeki jenis ini berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta semua rezeki halal yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah. Inilah rezeki yang Allah berikan khusus kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Inilah rezeki yang hakiki, yang menghantarkan seseorang akan mendpat kebahagiaan dunia akherat.

Rezeki jenis ini Allah khususkan bagi orang-orang mukmin. Allah menyemprunakan keutamaan bagi mereka, dan Allah anugerahkan bagai mereka surga di hari akhir kelak. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحاً يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقاً

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya “
(QS. Ath Thalaq:11).

Dan juga firman-Nya :

هَذَا ذِكْرٌ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَآَبٍ (49) جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ (50) مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ (51) وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ أَتْرَابٌ (52) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ (53) إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ (54

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan (diatas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu. Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari berhisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezki dari Kami yang tiada habis-habisnya. “
(QS. Shaad: 49-54)

Hanya Allah Pemberi Rezeki

Di antara nama-nama Allah adalah “Ar Rozzaq” dan “ Ar Rooziq”. Nama “Ar Rozzaq” terdapat dalam firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariyat:58)

Sedangkan nama “ Ar Rooziq”terdapat dalam firman-Nya,

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْواً انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِماً قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki” (QS. Al Jumu’ah:11)

Dan juga firman-Nya,

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقاً حَسَناً وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki” (QS. Al Hajj: 58)

Dari nama Allah Ar Rozzaq dan Ar Rooziq terkandung didalamnya sifat rezeki {الرزقُ} (ar ruzqu). Dalam siifat ar ruzqu bagi Allah, terkandung di dalamnya dua makna, yaitu banyaknya rezeki yang Allah berikan pada setiap makhluk, dan banyak/luasnya jumlah makhluk yang mendapat rezeki dari-Nya :

1. Rezeki yang banyak

Maksudnya rezeki yang Allah berikan kepada setiap makhluknya sangat banyak. Masing-masing makhluk Allah mendapat jatah rezeki yang banyak. Kita sebagai manusia mendapat rezeki berupa nikmat yang sangat banyak. Nikmat sehat, anggota tubuh yang sempurna, tempat tinggal, keluarga, harta, dan masih banyak nikmat-nikmat yang lainnya. Itu semua merupakan rezeki dari Allah yang sangat banyak dan tak terhingga. Allah Ta’ala berfirman :

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim:34)

2. Rezeki yang luas

Rezeki yang Allah berikan meliputi seluruh makhluk-Nya sesuai dengan kondisinya masing-masing. Masing-masing setiap makhluk mendapat rezeki yang banyak dari Allah. Manusia, jin, seluruh binatang dan tumbuhan, serta semua yang ada di langit dan di bumi mendapat rezeki dari Allah. Seluruh makhluk tersebut dipenuhi rezekinya oleh Allah semata. Ini menunjukkan luasnya rezeki yang Allah berikan pada makhluk-Nya. Allah berfirman :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki“ (QS. Huud:6)

Semangatlah Mencari Rezeki

Saudarakau, ingatlah bahwa rezeki tidaklah sebatas harta dunia. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki, kemudahan untuk beramal shalih adalah rezeki, istri yang shalihah adalah rezeki, anak-anak juga termasuk rezeki. Kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur atas rezeki yang Allah berikan. Bahkan rezeki yang hakiki adalah rezeki yang dapat menegakkan agama kita sehingga mengantarkan kita selamat di akherat. Inilah rezeki yang sesungguhnya. Rezeki yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Maka saudaraku, setelah kita mengetahui bahwa ilmu dan amal shalih termasuk rezeki yang bermanfaat, kita hendaknya bersemangat untuk menggapainya. Sebagaimana kita bersemangat dan bahkan menghabiskan waktu kita untuk mengais rezeki dunia, mestinya kita juga semangat untuk mencari rezeki yang lebih bermanfaat, yaitu ilmu dan amal shalih. Rezeki yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akherat kita.

Rezeki telah Ditentukan

Perlu diperhatikan, bahwa seluruh rezeki bagi makhluk telah Allah tentukan. Kaya dan miskin, sakit dan sehat, senang dan susah, termasuk juga ilmu dan amal shalih seseorang pun telah ditentukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”
(HR. Bukhari 3208 dan HR.Muslim 2643)

Dengan mengetahui hal ini, bukan berrati kita pasarah dan tidak berusaha mencari rezeki. Sebagian orang memiliki anggapan yang salah dalam memahami hal ini. Mereka hanya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali. Sunngguh, ini adalah kesalah yang nyata. Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas? Apabila kita sudah mengambil sebab dan mendapatkan hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa, termasuk dalam mencari rezeki, karena semuanya sudah merupakan ketetapan Allah.

Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا ولكن قل قدر الله وما شاء فعل

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangalah kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan :’Seaindainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah : ‘Qoddarullahu wa maa sya’a fa’ala”
(HR. Muslim 2664)

Semoga tulisan rigkas ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad

Referensi Utama :
Syarhu al ‘Aqidah al Waashitiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah
Fiqhu al Asmai al Husna, Syaikh ‘Abdurrozaq bin ‘Abdil Muhsni al Badr hafidzahullah
www.muslim.or.id

Demikian tadi sahabat sedikit mengenai jenis rejeki.Semoga berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels:

Tuesday, November 15, 2011

Kubur Awal Perjalanan Akhirat

Kubur Awal Perjalanan Akhirat

Mati adalah sesuatu perkataan yang paling ditakuti oleh hampir setiap manusia. Setiap orang, juga binatang takut mati, kecuali beberapa manusia yang sudah putus asa dalam kehidupan ini, yang ingin segera mati.Wajar sekali kalau manusia takut mati, sebab mati berarti berpisah dengan segala yang ia miliki atau senangi, berpisah dengan segala yang disayangi atau dicintai. Berpisah dengan anak dan isteri serta kekasih. Berpisah dengan bapa atau ibu, berpisah dengan harta dan pangkat, berpisah dengan dunia dan segala isinya.Dan kubur adalah awal perjalanan akhirat.

Khalifah kaum muslimin yang keempat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu jika melihat perkuburan beliau menangis mengucurkan air mata hingga membasahi jenggotnya.

Suatu hari ada seorang yang bertanya:

تذكر الجنة والنار ولا تبكي وتبكي من هذا؟

“Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat perkuburan?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده أشد منه

“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.”
(HR. Tirmidzi, beliau berkata, “hasan gharib”. Syaikh al-Albani menghasankannya dalam Misykah al-Mashabih)

kubur awal perjalanan akhirat,alam kubur

Bagaimanakah perjalanan seseorang jika ia telah masuk di alam kubur? Hadits panjang al-Bara’ bin ‘Azib yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Imam al-Hakim dan Syaikh al-Albani menceritakan perjalanan para manusia di alam kuburnya:

Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di perkuburan, liang lahad masih digali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam di sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung gagak yang hinggap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memainkan sepotong dahan di tangannya ke tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!” Beliau ulangi perintah ini dua atau tiga kali.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya seorang yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia dan telah mengharapkan akhirat (sakaratul maut), turunlah dari langit para malaikat yang bermuka cerah secerah sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut. Malaikat pencabut nyawa itu berkata, ‘Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau untuk menjemput ampunan Allah dan keridhaan-Nya’. Maka nyawa itu (dengan mudahnya) keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil oleh malaikat pencabut nyawa dan dalam sekejap mata diserahkan kepada para malaikat yang berwajah cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga dan diberi wewangian darinya pula. Hingga terciumlah bau harum seharum wewangian yang paling harum di muka bumi.

Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang amat mulia itu?’ ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’, jawab para malaikat yang mengawalnya dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia mereka meminta izin untuk memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh malaikat yang ada di langit itu ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya. Hingga mereka sampai di langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman, ‘Tulislah nama hambaku ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya di) bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku bangkitkan.’

Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka berdua bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Rabbku adalah Allah’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’, ‘Agamaku Islam’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” jawabnya. ‘Dari mana engkau tahu?’ tanya mereka berdua. ‘Aku membaca Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan mempercayainya’. Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit yang menyeru, ‘(Jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya’. Maka menghembuslah angin segar dan harumnya surga (memasuki kuburannya) lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata memandang.

Saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang amat tampan memakai pakaian yang sangat indah dan berbau harum sekali, seraya berkata, ‘Bergembiralah, inilah hari yang telah dijanjikan dulu bagimu’. Mukmin tadi bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kebaikan’. ‘Aku adalah amal salehmu’ jawabnya. Si mukmin tadi pun berkata, ‘Wahai Rabbku (segerakanlah datangnya) hari kiamat, karena aku ingin bertemu dengan keluarga dan hartaku.

Adapun orang kafir, di saat dia dalam keadaan tidak mengharapkan akhirat dan masih menginginkan (keindahan) duniawi, turunlah dari langit malaikat yang bermuka hitam sambil membawa kain mori kasar. Lalu mereka duduk di sekelilingnya. Saat itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan duduk di arah kepalanya seraya berkata, ‘Wahai nyawa yang hina keluarlah dan jemputlah kemurkaan dan kemarahan Allah!’. Maka nyawa orang kafir tadi ‘berlarian’ di sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut nyawa tadi mencabut nyawa tersebut (dengan paksa), sebagaimana seseorang yang menarik besi beruji yang menempel di kapas basah. Begitu nyawa tersebut sudah berada di tangan malaikat pencabut nyawa, sekejap mata diambil oleh para malaikat bermuka hitam yang ada di sekelilingnya, lalu nyawa tadi segera dibungkus dengan kain mori kasar. Tiba-tiba terciumlah bau busuk sebusuk bangkai yang paling busuk di muka bumi.

Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap mereka melewati segerombolan malaikat mereka selalu ditanya, ‘Nyawa siapakah yang amat hina ini?’, ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’ jawab mereka dengan namanya yang terburuk ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia, mereka minta izin untuk memasukinya, namun tidak diizinkan. Rasulullah membaca firman Allah:

لا تفتح لهم أبواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط

“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga, sampai seandainya unta bisa memasuki lobang jarum sekalipun.”
(QS. Al-A’raf: 40)

Saat itu Allah berfirman, ‘Tulislah namanya di dalam Sijjin di bawah bumi’, Kemudian nyawa itu dicampakkan (dengan hina dina).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ta’ala:

وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 31)

Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke jasadnya, hingga datanglah dua orang malaikat yang mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Saat itu terdengar seruan dari langit, ‘Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan neraka baginya dan bukakan pintu ke arahnya’. Maka hawa panas dan bau busuk neraka pun bertiup ke dalam kuburannya. Lalu kuburannya di ‘press’ (oleh Allah) hingga tulang belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya.

Tiba-tiba datanglah seorang yang bermuka amat buruk memakai pakaian kotor dan berbau sangat busuk, seraya berkata, ‘Aku datang membawa kabar buruk untukmu, hari ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu’. Orang kafir itu seraya bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kesialan!’, ‘Aku adalah dosa-dosamu’ jawabnya. ‘Wahai Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat’ seru orang kafir tadi.
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 156)

Itulah dua model kehidupan orang yang telah masuk liang kubur. Jika kita menginginkan untuk menjadi orang yang dibukakan baginya pintu ke surga dan diluaskan liang kuburnya seluas mata memandang maka mari kita berusaha untuk memperbanyak untuk beramal saleh di dunia ini.

Suatu amalan tidak akan dianggap saleh hingga memenuhi dua syarat:
  • Ikhlas
  • Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan landasan dua syarat di atas.

Di antara dalil syarat pertama adalah firman Allah ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Di antara dalil syarat kedua adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no 1718))

Allah menghimpun dua syarat ini dalam firman-Nya di akhir surat Al-Kahfi:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)

Maka mari kita manfaatkan kehidupan dunia yang hanya sementara ini untuk benar-benar beramal saleh. Semoga kelak kita mendapatkan kenikmatan di alam kubur serta dihindarkan dari siksaan di dalamnya, amin.

Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Tulisan ini terinspirasi dari kitab Majalis Al-Mu’minin Fi Mashalih Ad-Dun-Ya Wa Ad-Din Bi Ightinam Mawasim Rabb Al-’Alamin, karya Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syahlub (II/83-86)

Ustadz Abu Abdirrahman Abdullah Zaen. MA
www.muslim.or.id


Demikian tadi sahabat sedikit mengenai Kubur Awal Perjalanan Akhirat.Semoga berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels: , ,

Saturday, November 12, 2011

Mendidik Sifat Baik Pada Anak

Mendidik Sifat Baik Pada Anak

Orang tua bertanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala tentang pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka. Bila orang tua telah mengemban tanggung jawab itu dengan baik, semua akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, bila orang tua mengesampingkannya, anak akan menghadapi kondisi buruk dan orang tuanya akan menanggung beban dosa atas kelalaiannya itu. Salah satu aspek penting dalam perkembangan anak, adalah pembinaan moral mereka.

Pembinaan akhlak anak-anak mesti dilakukan sejak dini supaya kecenderungannya dalam menyukai kebaikan tetap terjaga. Dengan itu, anak-anak akan menjadi insan-insan terpuji nantinya, dan sumber kebahagiaan dan ketenangan orang tua mereka serta mendatangkan kebaikan bagi mereka, di dunia sebelum di akhirat. Jadi, mendidik anak termasuk amalan shaleh yang dapat digunakan oleh orang tua untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan pahalanya akan mengalir terus-­menerus sebagaimana sedekah jariyah

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Jika seorang anak Adam meninggal, ia akan putus dari seluruh amalannya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Yang perlu digarisbawahi disini, bahwa Islam telah mengajarkan seluruh akhlak yang baik. Bahkan seluruh ajarannya memang berbasis perbaikan akhlak manusia secara menyeluruh.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Aku diutus untuk menyempurnakan akhak "
(HR. Ahmad)

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya Islam adalah agama akhlak. Siapa saja yang menambahi akhlak kepadamu, maka ia sudah menambahi agama bagimu”.

Karena itulah, kaum Muslimin benar-benar tidak membutuhkan teori-teori pendidikan produk bangsa Barat, yang notabene mereka adalah kaum yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan tatanan kehidupan moral mereka pun sudah berantakan. Apa yang diharapkan dari bangunan yang sudah rusak ?


TIGA SIFAT PENTING BAGI ANAK

Budi pekerti luhur yang diajarkan Islam. sangatlah banyak, sehingga tidak mungkin dibatasi karena rinciannya begitu luas. Untuk itu, sangat perlu mengedepankan penanaman sifat-­sifat mulia yang terpenting yang seyogyanya melekat pada seorang anak dalam kehidupannya secara individu maupun sosial sehingga mereka lebih terarah menuju kondisi-kondisi yang baik.

Di antara sifat terpenting itu adalah:

1) SIFAT JUJUR

Kejujuran, salah satu sifat terpenting dalam kepribadian seorang anak dan sekaligus nantinya akan menjadi pertanda keimanannya. Pasalnya, kejujuran (ash-shidqu, Arab) lawan dari berdusta (al-kadzib) yang merupakan salah satu karakter menonjol orang-orang munafik.

Allah Ta’ala memerintahkan berkata jujur dan melarang kedustaan. Allah Ta’ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS. At-Taubah / 9:119)

Merekea orang-orang yang benar dalam perkataan, perbuatan dan kondisi.[2]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Tanda orang munafik ada tiga ; jika berbicara ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat"
(HR. al-Bukhari)

Keluarga Muslim bertanggung-jawab penuh dihadapan Allah Ta’ala untuk mengambil peran utama dalam menanamkan sifat jujur dan seluruh akhlak yang terpuji pada kepribadian semua anggota keluarganya, baik yang dewasa maupun yang masih kanak-kanak. Pasalnya, sifat terpuji ini (kejujuran) salah satu faktor utama yang mendatangkan ketentraman hidup dalam rumah dan keindahan akhlak serta keteguhan perilaku yang baik lainnya.

Hubungan antar komponen dalam satu keluarga mengharuskan mereka membiasakan hidup jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan, siapapun dia, besar ataupun kecil. Menjadi kewajiban orang-orang yang sudah dewasa untuk menjadi cermin yang baik bagi anak-anak.

Anak akan terpengaruh dengan orang dewasa yang ada disekitar mereka, terutama dalam rumah yang mereka huni. ”Perkara baik dalam pandangan anak-anak adalah yang engkau (orang tua / guru) lakukan. Dan perkara buruk (menurut mereka) adalah yang tidak engkau lakukan”[3].

Oleh sebab itu, Islam memperingatkan agar orang tua (pendidik) tidak mencoba berdusta di hadapan anak-anak yang masih dalam fitrahnya itu. Tujuannya, agar mereka tumbuh dan berkembang dalam naungan pembinaan yang baik. Di saat sebagian orang tua meremehkan masalah ini dengan tidak sejalannya perkataan yang didengar anak-anak dengan perbuatan yang dilakukan orang tua, dan membuai mereka dengan ‘obralan’ janji `kosong’ agar mau taat, mendengar dan tidak membangkang.

Apakah pembinaan seperti ini tepat? Kedustaan itu apakah bukan dosa?

Cara mendidik dengan kedustaan ditentang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tetap menganggapnya sebagai perbuatan dosa. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa berkata kepada seorang anak kecil, ”Kesini, ambillah (ini)”, kemudian tidak memberinya apapun, itu adalah kedustaan
(HR. Ahmad dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 748).

Dalam hadits lain yang memperkuat makna hadits di atas, dari hadits Abdullah bin Amir ra. Rasulullah mendatangi rumah kami, saat aku masih kecil. Aku keluar untuk main-main. lbuku berkata, “Abdullah, sini, lbu mau memberimu (sesuatu)”. Rasulullah bertanya (kepada Ibuku), “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?”. Ibu menjawab, “Kurma”. Kemudian Rasulullah berkata, “Jika engkau tidak memberinya apapun, niscaya itu satu kedustaan bagimu”.
(HR. Ahmad)

Melalui dua hadits di atas, sudah jelas, bahwa apa yang dipraktekkan sebagian orang tua terhadap anak-anak mereka dengan menjanjikan sesuatu padahal tidak berniat untuk memberikannya kepada sang anak, hanya agar anak mau taat dan mendengar perintah dan larangan orang tua, atau sekedar mau masuk rumah, termasuk kedustaan yang harus dijauhi setiap Muslim.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullah mengatakan, “(Kewajiban orang tua) Membiasakan anak-anak untuk jujur dalam ucapan dan perilaku mereka dilakukan dengan cara kita (orang tua) tidak berdusta kepada anak-anak meski saat bercanda dengan mereka, jika kita (orang tua) menjanjikan mereka (sesuatu), maka kita (orang tua) harus memenuhinya”.[4]

Dengan melekatnya sifat jujur pada anak, akan terbentuk insan-insan yang selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan selalu berkata benar.

2) SIFAT AMANAH

Sifat ini sangat tinggi dan penting kedudukannya dalam Islam dimana al-Qur’an menyebutkan bahwa amanah mencakup seluruh aspek perintah dan larangan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman :"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa / 4:58)

Amanat adalah segala hal yang dipercayakan kepada seseorang dan ia dituntut untuk menjalankannya. Allah memerintahkan untuk menjalankannya dengan sempurna. Termasuk dalam makna amanat ialah amanat memegang kekuasaan, kekayaan atau rahasia dan lainnya. Orang yang diserahi amanat untuk mengemban sesuatu, maka harus wajib memeliharanya dengan baik, karena amanat tidak bisa dijalankan kecuali dengan cara memeliharanya.[5]

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman :"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dn (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui"
(QS. Al-Anfal / 8:27)

Kejujuran termasuk bagian dari amanah dan pelengkapnya. Hal ini dapat diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara amanah dan kejujuran dalam hadits sebagai sifat seorang Mukmin, dan dua sifat yang bertolak-belakang dengannya (dusta dan khianat) termasuk tanda nifak.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Tanda orang munafik ada tiga ; jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat."
(HR. al-Bukhari)

Atas dasar itu, menjadi kewajiban orang tua untuk membiasakan diri mereka dan anak-­anak untuk menjaga amanah dan memperingatkan mereka dari khianat dan dampak buruknya. Termasuk memerintahkan mereka untuk menjaga hak-hak orang dan barang milik mereka yang mereka temukan di tengah jalan, meskipun harganya tidak seberapa dalam pandangan kita.

Orang tua harus mendidik anak-anak agar tidak punya keinginan untuk memiliki barang milik orang lain sekalipun berada di tengah jalan tanpa diketahui pemiliknya. Justru sebaliknya mengajak mereka untuk mencari pemiliknya sedapat mungkin. Ini akan menggoreskan pelajaran mendalam pada jiwa anak dikemudian hari untuk tidak pernah berharap memiliki barang milik orang lain apalagi sampai mengambilnya dengan cara-cara yang haram.

3) MEMBIASAKAN LISAN MEREKA UNTUK BERKATA-KATA YANG BAIK SAJA

Mendidik anak untuk hanya berkata-kata yang baik dan menjauhi ungkapan-ungkapan buruk bagian dari akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam melalui al-Qur’an dan Hadits.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghubungkan antara keimanan dan ucapan baik yang keluar dari mulut seseorang dalam sabdanya : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam (saja)."
(HR. al-Bukhari)

Orang tua yang hendak mendidik anak untuk menjaga lisan dari celaan, umpatan, dan kata-kata kotor lainnya, maka harus menempuh empat cara :
  1. Orang tua terlebih dulu harus menjauhi ucapan-ucapan yang buruk secara mutlak. Sebab, mereka itulah cermin dan teladan bagi anak-anak. “Sesungguhnya indahnya kepribadian pendidik dan kedua orang tua di depan anak-anak adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) yang terbaik”.[6]
  2. Mengajarkan anak-anak dan mengingatkan mereka dengan ayat-ayat al­Qur’an dan Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajak untuk menjaga lisan dari ucapan-­ucapan yang tidak baik, setiap kali mereka membutuhkan peringatan.
  3. Melakukan pengingkaran saat anak-anak mengeluarkan kata-kata yang buruk dan tidak senonoh.
  4. Memilihkan teman pergaulan yang baik dan menjauhkannya dari teman pergaulan yang buruk, agar anak-anak terjaga dan terlindungi. Maka, menjadi kewajiban orang tua untuk mengawasi teman-teman pergaulan anak-anak mereka dan memperingatkan anak­-anak jangan sampai berkawan dengan orang-­orang yang berperilaku buruk. Ibrahim al-Harbi rahimahullah mengatakan, ”Kerusakan pertama pada anak terjadi karena kawannya”. (Dzammul Hawa, Ibnul Jauzi rahimahullah).

ANAK-ANAK HARUS DIJAUHKAN DARI BENIH-BENIH PENYIMPANGAN

Menjadi tugas dan tanggung-jawab orang tua untuk menjauhkan anak-anak dari benih-benih penyimpangan. Man syabba ‘ala sya’in syaba ’alaih demikian bunyi pepatah Arab yang bermakna siapa yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya.

Maka, mata rantai penyimpangan hendaknya diputus sejak dini pula. Kelahiran anak yang merupakan salah satu pengaruh adanya sebuah perkawinan yang sah menjadi amanah bagi kedua orang tuanya. Secara rill, pelaksanaan amanah ini di antaranya dengan mendidik mereka dengan ajaran-ajaran Islam dan mengajarkan mereka hal-­hal yang mereka butuhkan dalam urusan agama dan dunia mereka. Selain itu, juga mengembangkan kepribadian mereka dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik serta menjaga mereka dari teman-teman yang buruk dan pergaulan yang membinasakan.[7]Orang tua yang kurang perhatian atau melalaikan kewajiban mentarbiyah anak-anak mereka telah berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala.[8]

Bila anak sudah terlanjur menyimpang dan menyenanginya, tinggallah orang tua pusing memikirkan bagaimana cara mengembalikan anak-anak buah hati mereka itu ke jalan yang lurus. Di saat itulah, penyesalan saja yang akan terjadi.

Sebagai penutup, mari kita simak nasehat Syaikh ‘Abdul Muhsin al-Qasim, imam dan khatib Masjid Nabawi kepada para orang tua, “Jadikan perhatianmu yang baik terhadap tarbiyah anak-anak dan keikhlasanmu untuk itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Bergembiralah dan selalu berharap baik, serta manfaatkan apa yang engkau miliki berupa doa yang mustajab bagi anak-­anakmu. Mendoakan anak termasuk kebiasaan para nabi. Nabi Ibrahim berdoa: “Dan jauhkanlah diriku dan anak-anakku dari menyembah berhala­berhala”

(Ingatlah) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak diragukan doa itu : doa orang tua bagi anaknya, doa musafir, dan doa orang yang terzholimi”[9]

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kaum Muslimin dalam mendidik keturunan mereka sesuai dengan petunjuk Islam. Wallahu a’lam

Diangkat dari al-Mar’atu Ra’iyatun fii Baitiha Da’iyatun, DR. Ahmad bin Muhammad Aba Buthain him. 17-21dengan beberapa tambahan referensi seperti tercantum pada catatan kaki.

Ustadz Abu Minhal

catatan kaki :
[1] Hirasatul Fadhilah hlm. 107

[2] Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 371

[3] At-Taujihat al-Silamiyyah li Ishalahil Fardi wal Mujtama’ hlm. 33

[4] Ibid. hlm. 35

[5] Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 171

[6] At-Taujihat al-Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ hlm. 33

[7] Silahkan lihat pernyataan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hirasatul Fadhilah hlm. 105

[8] Hirasatul Fadhilah hlm. 107

[9] Al-Khuthabul Minbariyyah, Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim, 1/176-177 dengan tema khutbah Tarbiyatul Aulad

Sumber: Majalah As Sunnah (Rubrik Baituna) edisi 11/thn. XIV/Rabiul Tsani 1432H/Februari 2011 - Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

Labels: ,

Tuesday, November 8, 2011

Mengingatkan Kiamat Keadaan Di Hari Arafah

Mengingatkan Kiamat Keadaan Di Hari Arafah
Diantara pelajaran penting dan penuh makna dari pelaksaan ibadah haji adalah berkumpulnya banyak orang di tempat penuh berkah yang di saksikan oleh semua jamaah haji di hari Arafah. Mereka wukuf di Arafah sambil mengucapkan talbiyah dan memohon kepada Allah Ta’ala, mengharap rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya memohon karunia-Nya yang berlimpah di hari berkumpulnya umat Islam terbesar yang pernah di saksikan.

Wukuf di Arafah mengingatkan kaum Muslimin akan adanya pengumpulan yang maha besar nanti di hari Kiamat. Kala itu, seluruh manusia dari yang pertama sampai yang terakhir akan berkumpul untuk menunggu keputusan Allah Ta’ala kemudian mereka akan berjalan menuju tempatnya masing-masing. Ada yang mendapatkan nikmat yang kekal dan ada pula yang tertimpa azab yang sangat pedih. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan yang pertama.


Ibnu Qayyim rahimahullah dalam sya’ir mimiyyahnya mengatakan :

Sungguh agungnya hari pengumpulan itu. Seperti pengumpulan di hari Kiamat, namun hari Kiamat itu lebih dahsyat

Kedahsyatan hari Kiamat itu sudah tidak diragukan lagi.
Allah Ta’ala berfirman :"Dan mereka akan dibawa ke hadapan Rabbmu dengan berbaris."
(QS. al-Kahfi /18:48).

Allah Ta’ala juga berfirman :Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).
(QS. al-Haqqah / 69:18).

Pada hari Kiamat itu, Allah Ta’ala mengumpulkan semua hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya : "Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari Kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya".
(QS. an-Nisa / 4:87).

Dan Allah Ta’ala berfirman :"(Ingatlah) hari (yang di waktu itu), Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan."
(QS. at-Taghabun / 64:9).

Dan Allah Ta’ala berfirman :"Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh semua makhluk)."
(QS. Hud / 11:103).

Pada hari pengumpulan itu tidak ada perbedaan antara umat terdahulu dan yang terakhir. Semua berkumpul di waktu yang sangat agung itu :"Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal."
(QS. al-Waqi’ah / 56:49-50).

Tidak ada seorang pun yang tidak menghadiri perkumpulan itu, walaupun badannya hancur di ruang angkasa, dan hilang di telan bumi dan di makan burung atau binatang buas. Semuanya akan dikumpulkan dan tidak ada cara untuk menghindar.

Allah Ta’ala berfirman :"Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka."
(QS. al-Kahfi / 18:47).

Allah Ta’ala juga berfirman : "Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. al-Baqarah / 2:148).

"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rabb Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti, dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri-sendiri."
(QS. Maryam / 19:93-95).

Mereka akan dikumpulkan di bumi yang berbeda dengan bumi mereka di dunia. Allah Ta’ala berfirman : "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."
(QS. Ibrahim / 14:48)

Bumi yang menjadi tempat berkumpulnya manusia nanti di akhirat telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku telah mendengarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Pada hari Kiamat kelak, manusia akan dikumpulkan di bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipih dan datar seperti roti bulat yang putih tidak ada tanda (bangunan) milik siapapun di atasnya.
(HR. al-Bukhari, no. 6521 dan Muslin no. 2790).

Maksudnya (mereka di kumpulkan) di atas bumi yang datar, tidak ada dataran yang tinggi ataupun rendah, tidak ada pegunungan dan bebatuan dan tidak ada tanda tempat tinggal ataupun bangunan.

Mereka dikumpulkan dalam keadaan tidak mengenakan sandal, telanjang tidak mengenakan pakaian, dalam keadaan tidak berkhitan. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum, ia menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesunggunya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan belum dikhitan, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Ta’ala (yang artinya) : Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami lah yang akan melaksanakannya.
(QS. al-Anbiya / 21:104).
(HR. al-Bukhari, no. 3349 dan Muslim no. 2860).

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, ketika Ia mendengarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :Manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan belum dikhitan. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, wanita dan laki-laki semua akan saling melihat satu sama lain ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Wahai ‘Aisyah kondisinya mengalahkan keinginan mereka untuk saling melihat satu sama lain
(HR. Bukhari no. 6527 dan Muslim no. 2859).

Pada hari itu, letak matahari semakin dekat ke manusia sehingga jaraknya hanya satu mil saja, sementara itu tidak ada tempat bernaung kecuali naungan Arsy (singgasana Allah). Diantara manusia, ada yang mendapat naungan Arsy dan ada pula yang terpanggang oleh panasnya matahari. Panas matahari itu menyengat dan menambah penderitaan serta semakin menimbulkan kegelisahannya. Kala itu, manusia saling berdesakan dan saling berhimpitan satu sama lain, sehingga terjadi saling dorong, kaki-kaki saling menginjak dan tenggorakan kering karena kehausan. Sungguh pada waktu itu, manusia mengalami tiga hal yang sangat berat dalam waktu yang bersamaan, yaitu panasnya sengatan matahari, kerongkongan yang kering serta badan berdesakan. Sehingga tak ayal lagi, keringat bercucuran dan tumpah ke tanah, sehingga membasahi kaki-kaki mereka sesuai dengan kedudukan dan kedekatan mereka dengan Rabb mereka. Diantara manusia ada yang keringatnya sampai ke bahu dan pinggangnya; dan di antara mereka ad yang keringatnya sampai di telinga; Dan ada yang benar-benar tenggelam dalam keringatnya sendiri.[1] Semoga Allah Ta’ala memelihara dan menyelamatkan kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Pada hari Kiamat, manusia berkeringat, sehingga keringat mengalir ke bumi tujuh puluh hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinga
(HR. al-Bukhari, no. 6532).

Dari Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Pada hari Kiamat, matahari didekatkan ke manusia hingga kira-kira sebatas satu mil. Lalu manusia berkeringat sesuai amal perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang berkeringat hingga (merendam) tumitnya; Diantara mereka, ada yang berkeringat sampai (menenggelamkan) lutut; Diantara mereka, ada yang berkeringat sampai (merendam) pinggangnya; Dan ada yang dikendalikan oleh keringatnya sendiri. (al-Miqdad , Sahabat yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangan ke arah mulut beliau.”
(HR. Muslim no. 2864).

Sehari mereka berdiri (di padang mahsyar) sama dengan lima puluh tahun dunia ii.

Allah Ta’ala berfirman :

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
(QS. al-Ma’arij / 70:4).

Disebutkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada seorang pun pemilik emas dan perak yang tidak mengeluarkan zakatnya melainkan di hari Kiamat akan dibuatkan setrika dari api yang dinyalakan dalam neraka. Lalu disetrikakan pad perut, dahi dan punggungnya, setiap kali setrika itu dingin maka akan dipanaskan kembali untuknya di hari yang setara dengan lima puluh ribu tahun (di dunia) hingga perkaranya di putuskan, barulah ia melihat jalan keluarnya apakah akan ke surga atau ke neraka.
(HR. Muslim no. 987).

Namun, kondisi ini akan diringankan oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang yang beriman. Kita memohon karunia kepada Allah Ta’ala yang Maha Pemurah. Dalam kitab Mustadrak al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Lama hari Kiamat bagi orang-orang beriman seperti waktu antara Zhuhur dan Ashar. (al-Mustadrak, 1/84) dan dishahihkan al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’, no. 8193).

Allah Ta’ala juga akan menaungi orang-orang beriman dengan naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Allah berfirman dalam hadits qudsi :"Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka saat tidak ada naungan pada hari ini selain naungan-Ku."
(HR. Muslim no. 2566).

Pada hari itu, seluruh manusia meminta tolong kepada para Nabi. Mereka meminta agar diberikan syafaat di sisi Allah Ta’ala untuk segera menentukan dan memutuskan perkara diantara para hamba. Namun semua nabi menyampaikan alasan tidak bisa memberikan syafa’at kecuali nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Itu untuk saya.” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dan sujud di bawah Arsy Rabbil alamin, Allah Ta’ala mudahkan beliau untuk mengucapkan ucapan syukur dan pujian-pujian yang baik yang sebelumnya tidak pernah diajarkan untuk seorangpun, kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Angkatlah kepalamu! Mintalah niscaya engkau akan diberikan! Dan berilah syafa’at niscaya syafaatmu (akan didengar)! Dan di saat itulah Allah Ta’ala datang untuk memberikan keputusan untuk para hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman :"Dan Rabbmu datang, sementara para malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu neraka Jahanam diperlihatkan; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia (manusia) mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”
(QS. al-Fajr / 89:22-24).

Dalam sebuah bait syair disebutkan

Ingatlah ketika engkau datang menghadap Allah seorang diri. Sementara timbangan untuk amalan telah ditegakkan. Segala yang menutupi maksiat telah dimusnahkan. Sementara dosa datang tanpa ada penutup.

Maka marilah kita merenungi hari yang sudah dijelaskan untuk kita, Kita merenungi kondisi yang sudah diberitakan kepad kita, Hendaklah kita mempersiapkan segala yang diperlukan dan hendaklah kita senantiasa bertakwa kepad Allah, karena sesungguhnya takwa adalah bekal terbaik.

Allah Ta’ala berfirman di akhir ayat-ayat tentang ibadah haji :"Dan bertakwalah kepad Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya."
(QS. al-Baqarah / 2:203).

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua temasuk para hamba-Nya yang senantiasa bertakwa, dan semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari kehinaan di hari kiamat dan kita memohon dengan karunia dan kemurahan Allah Ta’ala supaya kita termasuk orang-orang yang selamat.

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Sumber: Majalah As-Sunnah edisi: 06/thn XV/Dzulqadah 1432H/Oktober 2011M
Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

Demikian tadi sahabat sedikit mengenai Mengingatkan Kiamat Keadaan Di Hari Arafah.Semoga berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels:

Saturday, November 5, 2011

Hasil Kebaikan

Hasil Kebaikan

Saudaraku inilah di antara buah dan tanda kebaikan kita diterima, yaitu kebaikan tersebut berbuah pada kebaikan selanjutnya. Jika kita mengerjakan shalat, maka itu pun membuahkan kita rutin mengerjakannya dan menjauhi kemungkaran. Jika kita shalat malam, maka tanda diterimanya kebaikan tersebut adalah jika kita berusaha terus untuk rutin shalat malam. Jika kita telah berhaji, maka itu membuahkan kita gemar menjaga shalat wajib, shalat sunnah, rajin berderma dan melakukan segala kebaikan lainnya.Inilah yang dinamakan dengan buah dan hasil kebaikan
Sebaliknya, jika kebaikan yang kita lakukan malah berbuah kejelekan, maka itu tanda kebaikan sebelumnya itu bermasalah.

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim).

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”
(Latho-if Al Ma’arif)


Semoga dengan hal ini semakin memudahkan kita untuk terus istiqomah dalam beramal baik. Kunci utama agar terus bisa beramal baik adalah tawakkal dan banyak memohon doa pada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Ath Tholaq: 2-3).
Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka.
(Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Ingatlah pula sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad. Hasan)

Dengan tawakkal dan doa, moga Allah mudahkan kita kontinu dalam beramal baik sepanjang hayat. Wallahu waliyyut taufiq.


Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Artikel : Rumaysho.Com

Demikian tadi sahabat sedikit mengenai hasil kebaikan.Semoga berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels: ,