Friday, December 30, 2011

Memberi Nama Yang Baik

Memberi Nama Yang Baik.Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan.Diantara keindahan ialah memberi memberi nama yang baik bagi anak dan tidak memberinya nama yang mengandung makna buruk.Islam adalah agama kemudahan seperti yang disebutkan dalam firman-Nya :"Allah menghendaki kemudahan bagi kamu"
( QS. Al-Baqarah : 185 )

Untuk itu Islam selalu menginginkan kemudahan, meskipun menyangkut pemberian nama, dan Islam tidak menyukai kesulitan dan kekerasan meskipun juga menyangkut pemberian nama.Hal ini dapat dilihat dengan jelas melalui larangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai nama Harb (perang).

memberi nama yang baik, nama baik untuk anak, sunnah memberikan nama baik pada anak

Untuk itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Nama yang paling disukai adalah 'Abdullah dan 'Abdur Rahman, dan nama yang paling baik adalah Harits dan Hammam, sedang nama yang paling buruk adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit)."
( HR. Abu Dawud )

Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar r.a yang telah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :"Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah adalah 'Abdullah dan 'Abdur Rahman."
( HR. Muslim )

Demikian tadi saudaraku mengenai memberi nama yang baik.Semoga Berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels:

Monday, December 26, 2011

Anjuran Adzan dan Iqamah Pada Bayi

Anjuran Adzan dan Iqamah Pada Bayi.Alhamdulillah adalah ucapan pertama kali bila kita dikarunia seorang anak hasil dari buah pernikahan kita tentunya.Dan dalam menyambut buah hati ini ada beberapa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diantaranya yaitu anjuran Adzan dan Iqamah.Anjuran untuk adzan dan iqamah ini banyak hadist yang membahasnya.

Dibawah ini beberapa hadist yang menganjurkan adzan dan iqamah pada bayi dan diantaranya yaitu :
1. "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Hasan bin 'ali ketika Fathimah melahirkannya"
( HR. Abu Daud, Tirmidzi ).

2. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Siapa saja yang dikaruniai seorang bayi lalu dia mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya, maka bayi itu akan dijauhkan dari 'Ummush Shibyan'"
( HR. Baihaqi )

Adapun rahasia menganjurkan adzan dan iqamah pada bayi, Wallahu a'alam agar yang pertama-tama mengetuk pendengaran anak manusia adalah kalimat yang memuat keagungan dan kebesaran Illahi serta serta syahadat yang merupakan jalan yang pertama-tama harus ditempuh untuk menganut agama Islam.Jadi, dengan adzan seolah-olah mengajarkan kepada bayi tentang syiar Islam pada saat bayi tersebut memasuki kehidupan dunianya.

anjuran adzan dan iqamah pada bayi, adzan iqamah bayi, sunnah adzan dan iqamah bayi

Tidak perlu dipungkiri, pengaruh adzan akan sampai ke dalam hati si bayi.Dia akan terpengaruh dengannya meskipun bayi itu belum tahu apa-apa.Faedah lain dari mengadzankan bayi yaitu larinya setan yang menghindar dari kalimat adzan karena sebelum itu setan memang selalu mengintai bayi sampai lahir, selanjutnya dia akan selalu berusaha menyertainya untuk menguji dan membernya bencana.Jka memang ditakdirkan dan dikehendaki Allah.Biarlah setan dari bayi itu mendengar sesuatu yang membuatnya lemah dan marah saat pertama kali hendak mendekati anak manusia.

Masih ada lagi makna adzan ditelinga bayi, yaitu agar seruan yang terkandung di dalam adzan, yaitu seruan kepada Allah, kepada agama Islam, dan beribadah kepadaNya mendahului seruan setan.Begitu pula, agar fitrah Allah, dengannya anak manusia diciptakan, mendahului penyimpangan dan pengalihan yang diupayakan setan.

'Ummush Shibyan' : Ada yang mengatakan itu adalah jin perempuan.Ada pula yang mengatakan apa saja yang menakutkan anak.

Demikian tadi saudaraku mengenai anjuran adzan dan iqamah.Semoga Berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels: , ,

Thursday, December 22, 2011

Mengajarkan Anak Shalat

Mengajarkan Anak Shalat.Sebenarnya mengajarkan anak shalat serta akan pentingnya shalat memang seharusnya sudah dimulai sejak dari janin.Ibu yang senantiasa menjaga wudhu serta shalatnya pada saat hamil berarti telah mengenalkan shalat kepada janin yang dikandungnya.

Makna bacaan shalat akan terekam dan akan memberikan pengaruh positif bagi sang janin.Mau seperti apa anak kita, maka penanaman hal-hal yang kita inginkan dimulai dari dalam kandungan.Dan mengajarkan anak shalat adalah sangat penting dimulai sejak sedini mungkin

Semua bermula dari keteladanan orang tua.Menyaksikan kedua orang tuanya melakukan shalat lima waktu setiap hari sejak dini, membuat anak terpicu untuk meniru.Ketika anak memasuki usia sekolah, yaitu sekitar usia 7 tahun, maka mulailah anak untuk siap mamasuki masa untuk mempelajari tata shalat yang benar.

mengajarkan anak shalat, membimbing dan mendidik shalat,shalat sejak dini,tata cara shalat

Beberapa cara yang dapat dilakukan pada fase ini, yaitu mengajarkan rukun-rukun shalat melaui pendekatan praktek langsung.Misalnya pada waktu-waktu shalat orangtua mengajak anak untuk langsung melakukan shalat dengan bimbingan.Mulai dari tatacara thaharah serta berwudhu pada anak, bagaimana membentuk barisan, shaf-shaf pada shalat diikuti dengan praktek shalat yang benar serta menghapalkan doa-doa secara bertahap.

Ketika anak berusia sepuluh tahuan anak belum juga mau mengikuti perintah shalat.Maka kita diingatkan dengan sebuah hadist yang diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun dan jika telag berumur sepuluh tahun, namun tidak mau mengerjakan shalat maka pukullah.”
Ungkapan ini perlu pula dimaknai dengan hati-hati dan juga secara arif.

Karena makna “pukullah” di sini tentu bukan melakukan hukuman dengan kekerasan secara fisik yang menyakitkan dan melukai anak, akan tetapi bahwa orang tua harus menunjukkan ketidaksenangan dan konsekuensi yang sangat tegas saat anak menolak shalat.

Setiap pencapaian anak dalam belajar shalat merupakan sebuah prestasi baginya.Sudah selayaknyalah kita sebagai orang tuanya memberikan penghargaan.Penghargaan tidak hanya diberikan atas prestasi akademik formal, tetapi hendaknya penghargaan diberikan ketika anak mengerjakan shalat lima waktu atau mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Penghargaan sebagai bentuk ekspresi agar anak mengetahui bahwa hal tersebut memang benar-benar sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus membahagiakan orangtuanya.Dengan adanya penghargaan inipun, akan menumbuhkan sikap menghargai.Jika orang tua mampu menghargai prestasi anak dalam hal ibadah, maka sang anak pun akan menghargai ibadah itu.

Penghargaan ini pun tidak selalu diberikan atau pun diekspresikan dalam bentuk barang, apalagi barang-barang yang mewah dan berlebihan.Tetapi bisa disampaikan dengan ucapan terima kasih,pelukan dan ciuman penuh kasih sayang serta belaian yang diberikan sesudah anak mengerjakan shalat juga merupakan penghargaan yang tidak dapat diukur dengan materi.

Dan bagi anak-anak, guru yang paling baik itu adalah contoh yang benar dari kita sebagai orang tuanya.Semua orang sepakat bahwa mengajar dengan praktik dan memberi contoh secara langsung jauh lebih berpengaruh positif pada pemahaman anak daripada hanya teori semata.

Demikian tadi saudaraku sedikit mengenai mengajarkan anak shalat.Semoga Berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels: , ,

Sunday, December 18, 2011

Memilih Teman atau Sahabat

Memilih Teman atau Sahabat.Teman dapat mempengaruhi perilaku, akhlaq bahkan agama kita.Maka seseorang harus berhati-hati dalam memilih teman.Ia harus selektif dengan siapa akan bergaul.Karena teman dapat menghantarkan kita kepada kebahagiaan ( dunia dan akherat ), teman juga dapat menjerumuskan ke lembah kehinaan dan kesengsaraan baik dunia ataupun akhirat kita.Maka berhatilah-hatilah dalam memilih sahabat atau teman.

memilih teman, memilih sahabat, memilih teman sejati,tips memilih teman

Agar kita tidak menyesal di kemudian hari, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam memilih teman diantaranya yang dapat kita lakukan adalah :

1. Dengan siapa kita bergaul, karena pengaruh temannya (yang masuk dalam dirinya ) juga akan mempengaruhi kita.
2. Apa kebiasaan teman kita, sebab kebiasaan teman kita pada saatnya juga akan menjadi kebiasaan kita.Teman yang bisa membaa Al-Qur'an, akan membantu kita untuk juga terbiasa membacar Al-Qur'an.Demikian juga teman yang terbiasa merokok misalnya, maka lambat laun juga akan mempengaruhi kita untuk merokok.
3. Bagaimana akhlaqnya, karena sesungguhnya sangat bisa jadi akhlaq kita juga akhlaq teman kita dan juga bisa sebaliknya.
4. Bagaimana sikapnya terhadap agama, apakah akan membantu kita dalam ketaatan atau malah menjerumuskan kita ke dalam kemungkaran.
5. Bagaimana teman kita mempergunakan dan memanfaatkan teman, apakah untuk kemanfaatan atau untuk kesia-siaan, karena itu nanti juga akan menjadi sikap kita.

Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih teman apalagi memilih teman hidup.

Demikian tadi saudaraku sedikit mengenai memilih teman .Semoga Berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels: ,

Tuesday, December 13, 2011

Sunnah Rasulullah Menuju Masjid

Sunnah Rasulullah Menuju Masjid.Setelah kemarin memposting tentang perjalanan hidup Imam Ahmad bin Hanbal maka hari ini abu akan berbagi kembali mengenai salah satu sunnah dan adab rasulullah yaitu sunnah Rasulullah menuju Masjid .Semoga sunnah dan adab menuju masjid ini bisa bermanfaat saudaraku aamiin...aamiin

Berjalan menuju masjid dengan tujuan beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan mendekatkan diri kepada-Nya merupakan amalan yang mulia. Seseorang yang berjalan menuju masjid di antara mereka ada yang bertujuan untuk menghadiri majelis ta’lim, membaca Al-Qur`an, atau untuk melaksanakan shalat.

Sunnah Rasulullah Menuju Masjid, Adab menuju masjid, berjalan menuju masjid

Berjalan menuju masjid dengan tujuan melaksanakan shalat berjamaah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya:

Langkah Kaki Mereka Menghapus Dosa dan Mengangkat Derajat

Di antara keutamaan yang dijanjikan bagi orang yang berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah adalah tidaklah mereka melangkahkan kakinya kecuali sebagai penghapus dosa dan satu langkah yang lainya sebagai pengangkat derajat. Keutamaan ini hanya didapatkan oleh mereka yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci dan tidaklah dia keluar kecuali untuk shalat.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu:“Barang siapa yang bersuci di rumahnya kemudian dia berjalan menuju salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan shalat fardhu, maka kedua langkahnya adalah salah satunya menghapus dosa dan yang lainnya menaikkan derajat.”
( HR. Muslim no. 666 )

Adab-adab ketika Berjalan menuju Masjid

1. Berangkat ke masjid dalam keadaan telah bersuci.

Seseorang yang akan berangkat menuju ke masjid untuk menunaikan shalat wajib disunnahkan baginya agar berangkat dalam keadaan telah bersuci (sudah berwudhu). Karena seseorang yang melangkahkan kakinya menuju masjid dalam keadaan telah bersuci dan tidaklah dia keluar dari rumahnya kecuali hanya untuk shalat maka sebagian langkahnya sebagai penghapus dosa dan sebagian yang lain menaikkan derajatnya. Keutamaan ini hanya didapat oleh orang-orang yang memperhatikan adab ini.
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata di dalam syarh (penjelasan) beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin ketika menjelaskan tentang hadits di atas, “…. dengan syarat dia berwudhu di rumahnya dan menyempurnakan wudhunya kemudian keluar menuju masjid, tidak ada yang mengeluarkan dia kecuali shalat …”

2. Membaca doa keluar rumah.

Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha salah seorang istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata, “Sesungguhnya Nabi dahulu jika keluar dari rumah membaca:

بِسْمِ اللَّهِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أَضِلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Dengan nama Allah, wahai Rabb-ku aku berlindung kepadamu dari terjatuh dalam dosa atau tersesat atau terjatuh dalam kezaliman atau terzalimi atau bodoh atau dibodohi.” ( Diriwayatkan oleh an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan selain keduanya )

Doa ini dibaca ketika hendak keluar rumah, menuju masjid, atau selainnya. Ath-Thibi rahimahullaah berkata, “Jika keluar rumah pasti seseorang akan bertemu dengan masyarakat lainnya. Dikhawatirkan menyimpang dari jalan yang lurus, baik dalam urusan agamanya atau urusan dunianya. Bila dalam urusan agama mungkin dia sesat atau disesatkan, bila dalam urusan dunia mungkin dia menzalimi saudaranya atau dizalimi. Bisa jadi dia bodoh atau dibodohi disebabkan oleh pergaulan ataupun bercampurnya dengan manusia. Oleh karena itu hendaknya dia berlindung kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa dari semua keadaan ini dengan ucapan yang padat dan ringkas.”
(Lihat Mir`atul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih hal. 194)

3. Berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

Bagi seseorang yang hendak menuju shalat berjamaah hendaknya dia berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Dikarenakan seseorang yang hendak menuju shalat dituntut agar melaksanakannya dengan adab yang mulia dan dalam keadaan yang sempurna. Dahulu ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat pernah mendengar suara gaduh langkah orang yang tergesa-gesa karena terlambat. Kemudian setelah shalat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menasihatinya agar tetap berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa walaupun terlambat.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim dan selain keduanya dari sahabat Abu Qatadah radhiyallaahu ‘anhu:

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Ketika kami sedang melaksanakan shalat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba beliau mendengar suara langkah kaki beberapa shahabat. Ketika telah selesai shalat beliau bersabda, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa menuju shalat,” beliau bersabda, “Jangan kalian lakukan hal itu, jika kalian mendatangi shalat hendaklah berjalan dengan tenang, apa saja yang kalian dapatkan dari shalat kerjakanlah (bersama imam) dan apa saja yang tertinggal maka sempurnakanlah.”

Di dalam hadits yang lain dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dengan tambahan:

وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ

“Hendaklah kalian berjalan dengan sakinah dan waqar.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullaah berkata, “Secara lahir nampak bahwa di antara keduanya ada perbedaan. As-sakinah itu adalah tenang dalam gerakan dan meninggalkan perkara yang sia-sia. Al-waqar adalah berkaitan dengan keadaannya seperti menjaga pandangan, merendahkan suara, dan tidak banyak menoleh.”
(Lihat Fathul Bari pada hadits no 632)

4. Membaca doa menuju masjid.

Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma mengabarkan bahwa dirinya pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah radhiyallaahu ‘anha, salah satu istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika pergi menuju masjid membaca doa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا

“Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lisanku, ciptakanlah cahaya di pendengaranku, ciptakanlah cahaya di penglihatanku, ciptakanlah cahaya dari belakangku, ciptakanlah cahaya dari depanku, ciptakanlah cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya
( HR. Muslim no. 763 )

5. Memakai pakaian yang yang layak.

Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman (yang artinya):

“Wahai anak Adam pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid.”
(QS Al-A’raf: 31)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullaah berkata, “Yaitu tutuplah aurat kalian pada setiap shalat, yang fardhu maupun yang sunnah. Karena menutupnya merupakan hiasan bagi tubuh sebagaimana membukanya adalah membiarkan tubuh tersebut jelek, dan bisa jadi yang dimaksud dengan perhiasan di sini adalah sesuatu yang lebih dari itu berupa pakaian yang bersih dan bagus. Di sini terdapat perintah menutup aurat di dalam shalat dan menggunakan pakaian yang bagus padanya, dan bersihnya pakaian dari kotoran dan najis.”
(Lihat Taisir al-Karimirrahman hal. 287)

6. Masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullaah memberi judul bab di dalam kitab Shahih beliau “Bab Mendahulukan yang Kanan ketika Masuk Masjid dan yang Lainnya.” Kemudian beliau berkata, “Dahulu Ibnu Umar mendahulukan kaki kanannya (ketika masuk) dan jika keluar ia mendahulukan kaki kirinya.”
(Shahih al-Bukhari pada hadits no. 426.)

Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Termasuk sunnah jika engkau masuk masjid hendaklah mendahulukan kaki kanan dan jika hendak keluar hendaklah mendahulukan kaki kiri.”
Diriwayatkan oleh al-Hakim dan sanad-nya hasan sebagaimana di-hasan-kan oleh asy-Syaikh al-Albani dan asy-Syaikh Muqbil rahimahumallaah.

Aisyah radhiyallaahu ‘anha, seorang istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dahulu Nabi menyukai mendahulukan yang kanan ketika thaharah, bersisir, dan bersandal.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Jika dalam hal memakai sandal saja Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupaya untuk mendahulukan yang kanan tentunya masuk masjid lebih utama untuk mendahulukan yang kanan.

7. Membaca shalawat dan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta doa ketika hendak masuk masjid.

Di antaranya yaitu:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas Nabi Muhammad, ya Allah bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”
Lihat kitab Manasik al-Hajji wal ‘Umrah karya asy-Syaikh al-Albani rahimahullaah.

Atau membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, Wajah-Nya Yang Maha Mulia, dan kekuasaan-Nya yang abadi dari syaithan yang terkutuk.”
Lihat kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib.

8. Membaca shalawat dan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta doa ketika hendak keluar masjid.

Di antaranya yaitu:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari karunia-Mu.”
Lihat kitab Manasik al-Hajji wal ‘Umrah karya asy-Syaikh al-Albani rahimahullaah.

Atau membaca:

اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk.” Lihat kitab ats-Tsamaru al- Mustathab.

Wallahu a’lam

Penulis: Al-Ustadz Abu Yahya Hayat

Mutiara Hadits Shahih

لاَ يَزَالُ العَبْدُ فِي صَلاَةٍ مَا كَانَ فِي المَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ

“Seorang hamba senantiasa berada dalam shalat selama dia masih tetap berada di masjid menanti shalat selama tidak berhadats.”
HR. al-Bukhari no. 176

Sumber Muhasabah : www.buletin-alilmu.com

Demikian tadi sahabat sedikit mengenai Sunnah Rasulullah Menuju Masjid .Semoga Berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels:

Wednesday, December 7, 2011

Mengenal Imam Ahmad bin Hanbal

Mengenal Imam Ahmad bin HanbalAlhamdulillah setelah beberapa lama vakum tidak memposting maka hari ini muhasabah akan kembali memposting mengenai seorang imam yaitu Imam Ahmad bin Hanbal

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih, bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

Kunyah dan Nama Lengkap beliau rahimahullah
Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin ‘Auf bin Qosith bin Mazin bin Syaiban Adz Dzuhli Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Baghdadi.

Lahir pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriyah di kota Marwa. Beliau lebih dikenal dengan Ahmad bin Hanbal, disandarkan kepada kakeknya. Karena sosok kakeknya lebih dikenal daripada ayahnya. Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia 3 tahun. Kemudian sang ibu yang bernama Shafiyah binti Maimunah membawanya ke kota Baghdad. Ibunya benar-benar mengasuhnya dengan pendidikan yang sangat baik hingga beliau tumbuh menjadi seorang yang berakhlak mulia.

mengenl Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahmad bin Hanbal, biografi ulama

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu

Sungguh mengagumkan semangat Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam menuntut ilmu. Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab (semacam TPA di zaman sekarang).

Kemudian pada tahun 179 Hijriyah, saat usianya 15 tahun, beliau memulai menuntut ilmu kepada para ulama terkenal di masanya. Beliau awali dengan menimba ilmu kepada para ulama Baghdad, di kota yang ia tinggali.

Di kota Baghdad ini, beliau belajar sejumlah ulama, diantaranya:

1. Al-Imam Abu Yusuf, murid senior Al-Imam Abu Hanifah.

2. Al-Imam Husyaim bin Abi Basyir. Beliau mendengarkan dan sekaligus menghafal banyak hadits darinya selama 4 tahun.

3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.

4. Abdurrahman bin Mahdi.

5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.

Pada tahun 183 Hijriyah pada usia 20 tahun, beliau pergi untuk menuntut ilmu kepada para ulama di kota Kufah. Pada tahun 186 H beliau belajar ke Bashrah. Kemudian pada tahun 187 H beliau belajar kepada Sufyan bin ‘Uyainah di Qullah, sekaligus menunaikan ibadah haji yang pertama kali. Kemudian pada tahun 197 H beliau belajar kepada Al-Imam ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani di Yaman bersama Yahya bin Ma’in.

Yahya bin Ma’in menceritakan: “Aku keluar ke Shan’a bersama Ahmad bin Hanbal untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani. Dalam perjalanan dari Baghdad ke Yaman, kami melewati Makkah. Kami pun menunaikan ibadah haji. Ketika sedang thawaf, tiba-tiba aku berjumpa dengan ‘Abdurrazaq, beliau sedang thawaf di Baitullah. Beliau sedang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Aku pun mengucapkan salam kepada beliau dan aku kabarkan bahwa aku bersama Ahmad bin Hanbal. Maka beliau mendoakan Ahmad dan memujinya. Yahya bin Ma’in melanjutkan, “Lalu aku kembali kepada Ahmad dan berkata kepadanya, “Sungguh Allah telah mendekatkan langkah kita, mencukupkan nafkah atas kita, dan mengistirahatkan kita dari perjalanan selama satu bulan. Abdurrazaq ada di sini. Mari kita mendengarkan hadits dari beliau!”

Maka Ahmad berkata, “Sungguh tatkala di Baghdad aku telah berniat untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq di Shan’a. Tidak demi Allah, aku tidak akan mengubah niatku selamanya.’ Setelah menyelesaikan ibadah haji, kami berangkat ke Shan’a. Kemudian habislah bekal Ahmad ketika kami berada di Shan’a. Maka ‘Abdurrazaq menawarkan uang kepadanya, tetapi dia menolaknya dan tidak mau menerima bantuan dari siapa pun. Beliau pun akhirnya bekerja membuat tali celana dan makan dari hasil penjualannya.” Sebuah perjalanan yang sangat berat mulai dari Baghdad (‘Iraq) sampai ke Shan’a (Yaman). Namun beliau mengatakan: “Apalah arti beratnya perjalanan yang aku alami dibandingkan dengan ilmu yang aku dapatkan dari Abdurrazaq.”

Al-Imam Abdurrazaq sering menangis jika disebutkan nama Ahmad bin Hanbal dihadapannya, karena teringat akan semangat dan penderitaannya dalam menuntut ilmu serta kebaikan akhlaknya.

Beliau melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu ke berbagai negeri seperti Syam, Maroko, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, Irak, Persia, Khurasan dan berbagai daerah yang lain. Kemudian barulah kembali ke Baghdad.

Pada umur 40 tahun, beliau mulai mengajar dan memberikan fatwa. Dan pada umur tersebut pula beliau menikah dan melahirkan keturunan yang menjadi para ulama seperti Abdullah dan Shalih. Beliau tidak pernah berhenti untuk terus menuntut ilmu. Bahkan, walaupun usianya telah senja dan telah mencapai tingkatan seorang Imam, beliau tetap menuntut ilmu.

Guru-guru beliau

Beliau menuntut ilmu dari para ulama besar seperti Husyaim bin Abi Basyir, Sufyan bin Uyainah, Al-Qadhi Abu Yusuf, Yazid bin Harun, Abdullah bin Al-Mubarak, Waki’, Isma’il bin ‘Ulayyah, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Imam Asy-Syafi’i, Abdurrazaq, Muhammad bin Ja’far (Ghundar), Jarir bin Abdul Hamid, Hafsh bin Ghiyats, Al-Walid bin Muslim, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain dan lain-lain.

Al-Imam Adz Dzahabi menyebutkan dalam kitab As-Siyar, jumlah guru-guru Al-Imam Ahmad yang beliau riwayatkan dalam Musnadnya lebih dari 280 orang.

Murid-murid beliau

Para ulama yang pernah belajar kepada beliau adalah para ulama besar pula seperti Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Zur’ah, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Qilabah, Baqi bin Makhlad, Ali bin Al-Madini, Abu Bakr Al-Atsram, Shalih dan Abdullah (putra beliau), dan sejumlah ulama besar lainnya.

Bahkan yang dulunya pernah menjadi guru-guru beliau, kemudian mereka meriwayatkan hadits dari beliau seperti Al-Imam Abdurrazaq, Al-Hasan bin Musa Al-Asyyab, Al-Imam Asy-Syafi’i.

Al-Imam Asy-Syafi’i ketika meriwayatkan dari Al-Imam Ahmad tidak menyebutkan namanya bahkan dengan gelarnya, “Telah menghaditskan kepadaku Ats-Tsiqat (seorang yang terpercaya).

Demikian pula teman-temannya seperjuangan dalam menuntut ilmu, mereka juga meriwayatkan dari beliau, seperti Yahya bin Ma’in.

Ahlak dan Ibadah Beliau rahimahullah

Pertumbuhan beliau berpengaruh terhadap kematangan dan kedewasaannya. Sampai-sampai sebagian ulama menyatakan kekaguman akan adab dan kebaikan akhlaknya, “Aku mengeluarkan biaya untuk anakku dengan mendatangkan kepada mereka para pendidik agar mereka mempunyai adab, namun aku lihat mereka tidak berhasil. Sedangkan ini (Ahmad bin Hanbal) adalah seorang anak yatim, lihatlah oleh kalian bagaimana dia!”

Beliau adalah seorang yang menyukai kebersihan, suka memakai pakaian berwarna putih, paling perhatian terhadap dirinya, merawat dengan baik kumisnya, rambut kepalanya dan bulu tubuhnya.

Orang-orang yang hadir di majelis beliau tidak sekedar menimba ilmunya saja bahkan kebanyakan mereka hanya sekedar ingin mengetahui akhlaq beliau.

Majelis yang diadakan oleh beliau dihadiri oleh sekitar 5000 orang. Yang mencatat pelajaran yang beliau sampaikan jumlahnya adalah kurang dari 500 orang. Sementara sisanya sekitar 4500 orang tidak mencatat pelajaran yang beliau sampaikan namun sekedar memperhatikan akhlak dan samt (baiknya penampilan dalam perkara agama) beliau.

Yahya bin Ma’in berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad. Kami bersahabat dengannya selama 50 tahun. Dan belum pernah kulihat ia membanggakan dirinya atas kami dengan sesuatu yang memang hal itu ada pada dirinya.”

Beliau juga sangat benci apabila namanya disebut-sebut (dipuji) di tengah-tengah manusia, sehingga beliau pernah berkata kepada seseorang: “Jadilah engkau orang yang tidak dikenal, karena sungguh aku benar-benar telah diuji dengan kemasyhuran.”

Beliau menolak untuk dicatat fatwa dan pendapatnya. Berkata seseorang kepada beliau: “Aku ingin menulis permasalahan-permasalahan ini, karena aku takut lupa.” Berkata beliau: “Sesungguhnya aku tidak suka, engkau mencatat pendapatku.”

Beliau adalah seorang yang sangat kuat ibadahnya. Putra beliau yang bernama Abdullah menceritakan tentang kebiasaan ayahnya: ” Dahulu ayahku shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Dan tatkala kondisi fisik beliau mulai melemah akibat pengaruh dari penyiksaan yang pernah dialaminya maka beliau hanya mampu shalat sehari semalam sebanyak 150 rakaat.”

Abdullah mengatakan: “Terkadang aku mendengar ayah pada waktu sahur mendoakan kebaikan untuk beberapa orang dengan menyebut namanya. Ayah adalah orang yang banyak berdoa dan meringankan doanya. Jika ayah shalat Isya, maka ayah membaguskan shalatnya kemudian berwitir lalu tidur sebentar kemudian bangun dan shalat lagi. Bila ayah puasa, beliau suka untuk menjaganya kemudian berbuka sampai waktu yang ditentukan oleh Allah. Ayah tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh (puasa tiga hari, tanggal 13, 14, 15 dalam bulan Hijriyah).

Dalam riwayat lain beliau berkata: “Ayah membaca Al-Qur’an setiap harinya 1/7 Al-Qur’an. Beliau tidur setelah Isya dengan tidur yang ringan kemudian bangun dan menghidupkan malamnya dengan berdoa dan shalat.

Suatu hari ada salah seorang murid beliau menginap di rumahnya. Maka beliau menyiapkan air untuknya (agar ia bisa berwudhu). Maka tatkala pagi harinya, beliau mendapati air tersebut masih utuh, maka beliau berkata: “Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak melakukan dzikir pada malam harinya?”

Beliau telah melakukan haji sebanyak lima kali, tiga kali diantaranya beliau lakukan dengan berjalan kali dari Baghdad dan pada salah satu hajinya beliau pernah menginfakkan hartanya sebanyak 30 dirham.

Ujian yang menimpa beliau

Beliau menerima ujian yang sangat berat dan panjang selama 3 masa kekhalifahan yaitu Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Beliau dimasukkan ke dalam penjara kemudian dicambuk atau disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan. Itu semua beliau lalui dengan kesabaran dalam rangka menjaga kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk. Di masa itu, aqidah sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalamullah) diterima dan dijadikan ketetapan resmi oleh pemerintah.

Sedangkan umat manusia menunggu untuk mencatat pernyataan (fatwa) beliau. Seandainya beliau tidak sabar menjaga kemurnian aqidah yang benar, dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, niscaya manusia akan mengiktui beliau. Namun beliau tetap tegar dan tabah menerima semua ujian tersebut. Walaupun beliau harus mengalami penderitaan yang sangat. Pernah beliau mengalami 80 kali cambukan yang kalau seandainya cambukan tersebut diarahkan kepada seekor gajah niscaya ia akan mati. Namun beliau menerima semua itu dengan penuh kesabaran demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah.

Sampai akhirnya, pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau dibebaskan dari segala bentuk penyiksaan tersebut.

Wafat beliau rahimahullah

Pada Rabu malam tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 241 Hijriyah, beliau mengalami sakit yang cukup serius. Sakit beliau semakin hari semakin bertambah parah. Manusia pun berduyun-duyun siang dan malam datang untuk menjenguk dan menyalami beliau. Kemudian pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awal, di hari yang ke sembilan dari sakitnya, mereka berkumpul di rumah beliau sampai memenuhi jalan-jalan dan gang. Tak lama kemudian pada siang harinya beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Maka meledaklah tangisan dan air mata mengalir membasahi bumi Baghdad. Beliau wafat dalam usia 77 tahun. Sekitar 1,7 juta manusia ikut mengantarkan jenazah beliau. Kaum muslimin dan bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani serta Majusi turut berkabung pada hari tersebut.

Selamat jalan, semoga Allah merahmatimu dengan rahmat-Nya yang luas dan menempatkanmu di tempat yang mulia di Jannah-Nya.

Maraji’:

1. Musthalah Hadits karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 63-66.

2. Pewaris Para Nabi hal. 49,55,91,94,173,1843. Mahkota yang hilang hal.39

4. Kitab Fadhail Ash-Shahabah jilid I hal 25-32.

5. Siyar A’lamin Nubala

6. Al-Bidayah wan Nihayah

7. Mawa’izh Al-Imam Ahmad

Buletin Islam Al Ilmu Edisi No : 29/VII/VIII/1431
buletin-alilmu.com

Demikian tadi sahabat sedikit mengenai Mengenal Imam Ahmad bin Hanbal .Semoga berguna dan bermanfaat saudaraku...

Labels: ,